LATAR BELAKANG
Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah tangga) ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Definisi dari limbah itu sendiri adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab pencemaran yang terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat. Limbah domestik kebanyakan menghasilkan limbah yang bersifat cair atau padat yang masih kaya dengan zat organik yang mudah mengalami penguraian. Kebanyakan kegiatan domestic membuang limbanya ke perairan terbuka, sehingga dalam waktu yang relatif singkat akan terjadi bau busuk sebgai akibat terjadinya fermentasi limbah.
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Agar dapat memenuhi baku mutu, suatu kegiatan domestik harus menerapkan prinsip pengendalian limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe pollution prevention) (Hidayat, 2008). Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan.
Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari total organic carbon(TOC), chemical oxygen demand (COD), dan biochemical oxygen demand (BOD). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, dan bau (Hidayat, 2008). Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa organik atau inorganik. Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter.
TINJAUAN PUSTAKA
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini.Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan, yaitu secara fisika, kimia, dan biologi.
Proses pengolahan yang termasuk pengolahan fisika antara lain pengolahan dengan menggunakan screen, sieves, dan filter. Pemisahan dengan memanfaatkan gaya gravitasi (sedimentasi atau oil/water separator) serta flotasi, adsorpsi dan stripping. Proses pengolahan yang dapat digolongkan secara kimia adalah netralisasi, presipitasi, oksidasi, reduksi, dan pertukaran ion.
Proses pengolahan kimia digunakan dalam instalasi air bersih dan IPAL. Pengolahan secara kimia pada IPAL biasanya digunakan untuk netralisasi limbah asam maupun basa, memperbaiki proses pemisahan lumpur, memisahkan padatan padatan yang tak terlarut, mengurangi konsetrasi minyak dan lemak, meningkatkan efisiensi instalasi flotasi dan filtrasi, serta mengoksidasi warna dan racun. Beberapa kelebihan proses pengolahan kimia antara lain dapat menangani hamper seluruh polutan anorganik, tidak terpengaruh oleh polutan yang beracun atau toksik, dan tidak tergantung pada perubahan-perubahan konsentrasi. Namun, pengolahan kimia dapat meningkatkan jumlah garam pada effluent dan meningkatkan jumlah lumpur(Siregar,2005).
Unit proses biologi adalah proses-poses pengolahan air limbah yang memanfaatkan aktivitas kehidupan mikroorganisme untuk memindahkan polutan. Proses-proses biokimia juga meliputi aktivitas alami dalam erbagai keadaan. Misalnya proses self purification yang terjadi di sungai-sungai. Sebagian besar air limbah, misalnya air limbah domestic, mengandung zat-zat organik sehingga proses biologi merupakan tahapan yng penting. Dalam proses pengolahan air limbah secara biologi, diharapkan terjadi proses penguraian air limbah secara alami untuk membersihkan air sebelum dibuang. Proses penguraian secara alami biasanya berlangsung lebih cepat dan membutuhkan tempat yang lebih sedikit.
Karakter air limbah meliputi sifat-sifat fisika, kimia dan biologi. Dengan mengetahui jenis polutan yang terdapat pada air limbah, dapat ditentukan unit proses yang dibutuhkan. Karakter fisika air limbah meliputi temperatur, bau, warna dan padatan. Temperatur menunjukan derajat atau tingkat panas air limbah yang diterakan ke dalam skala-skala. Bau merupakan parameter yang subjektif, yang tergantung pada sensitivitas indera penciuman seseorang. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh materi-materi yang terlarut, tersuspensi, dan senyawa-senyawa koloidal, yang dapat dilihat dari spektrum warna yang terjadi.
Karakter kimia air limbah meliputi senyawa anorganik dan organik. Senyawa anorganik terdiri atas kombinasi elemen yang bukan tersusun dari karon organik misalnya sand, grit, dan mineral-mineral yang tersuspensi maupun terlarut. Sedangkan senyawa organik adalah karbon yang dikombinasi dengan satu atau lebih elemen-elemen lain (O, N, P, H).
Karakter biologis dalam air limbah ditandai dengan ditemuinya mikroorganisme dengan jenis yang sangat bervariasi dalam semua bentuk air limbah, biasanya dengan konsentrasi 105 sampai 108 org/ml. Keadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah merupakan kunci efisiensi biologis. Bakteri juga berperan penting untuk mengevaluasi kualitas air.
Karakteristik air limbah yang biasanya diukur antara lain temperatur, pH, alkalinitas, padatan-padatan, kebutuhan oksigen, nitrogen, dan fosfor. Temperatur biasanya diukur dengan skala fahrenheit dan celcius. Nilai pH air digunakan untuk mengekspresikan kondisi keasaman air limbah dengan skala pH 1-14, kisaran pH 1-7 termasuk kondisi asam sementara pH 7-14 termasuk kondisi basah dan pH 7 netral. Alkalinitas adalah ukuran kemampuan air limbah untuk dinetralisasi. Penentuan tingkat alkalinitas pada IPAL akan membantu untuk memahami dan menginterpretasi unit pengolahan. Alkalinitas akan cenderung menetralisasi terbentuknya asam dan menghasilkan koagulasi, sesuai dengan pH yang diinginkan. Padatan-padatan yaitu terdiri dari zat padat total, zat padat terlarut, dan zat padat tersuspensi. Pengukuran yang bervariasi terhadap konsentrasi residu diperlukan untuk menjamin kemantapan proses kontrol. Kebutuhan oksigen dalam air limbah ditunjukkan melalui uji COD dan BOD. BOD adalah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi senyawa-senyawa kimia. Nilai BOD bermanfaat untuk mengetahui apakah air limbah tersebut mengalami biodegradasi atau tidak, yakni dengan membuat perbandingan antara nilai COD dan BOD. Oksidasi berjalan sangat lambat dan secara teoritis memerlukan waktu yang tak terbatas. Sedangkan COD adalah kebutuhan oksigen dalam proses oksidasi secara kimia. Nilai COD akan selalu lebih besar dari pada BOD, karena kebanyakan senyawa lebih mudah teroksidasi secara kimia dari pada secara biologi. Pengukuran COD membutuhkan waktu yang lebih cepat, yakni dapat dilakukan selama tiga jam. Sedangkan pengukuran BOD paling tidak dibutuhkan waktu selama 5 hari. Jika korelasi antara COD dan BOD dapat diketahui, maka kondisi air limbah dapat diketahui(Effendi,2003).
Senin, 27 Desember 2010
Posted in | |
0 Comments »
.jpg)

.jpg)






